JAKARTA, KOMPAS.com – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) membukukan laba bersih sebesar Rp 182,6 miliar pada semester I 2026. Raihan tersebut melonjak 790,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 20,5 miliar. Sejalan dengan peningkatan laba, laba per saham dasar dan dilusian perseroan juga naik menjadi Rp 5,4, dari sebelumnya Rp 0,7 pada semester I-2025. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) Superbank mencapai Rp 1,01 triliun, meningkat 53,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 665,29 miliar. Kenaikan tersebut ditopang pendapatan bunga yang meningkat menjadi Rp 1,49 triliun, dari sebelumnya Rp 904,49 miliar. Di sisi lain, beban bunga juga naik menjadi Rp 488,81 miliar, dari Rp 239,19 miliar pada semester I-2025.
Perseroan juga mencatat total pendapatan operasional lainnya sebesar Rp 57,12 miliar, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,81 miliar. Pendapatan tersebut ditopang pendapatan provisi dan komisi yang meningkat menjadi Rp 36,94 miliar, dari sebelumnya Rp 6,48 miliar. Selain itu, keuntungan dari penjualan efek untuk tujuan investasi tercatat sebesar Rp 20,17 miliar, naik dari Rp 2,27 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi beban, jumlah beban operasional meningkat menjadi Rp 833,57 miliar, dibandingkan Rp 643,63 miliar pada semester I-2025. Kenaikan dipicu oleh beban kerugian penurunan nilai aset keuangan yang naik menjadi Rp 246,13 miliar, dari Rp 136,1 miliar. Sementara itu, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp 340,55 miliar, dari Rp 291,5 miliar. Beban tenaga kerja juga mengalami kenaikan menjadi Rp 246,57 miliar, dibandingkan Rp 214,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dari sisi neraca, total aset Superbank hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp 27 triliun, meningkat dari posisi akhir 2025 sebesar Rp 21,28 triliun. Total liabilitas tercatat sebesar Rp 18,75 triliun, naik dibandingkan akhir tahun lalu yang sebesar Rp 13,11 triliun. Adapun total ekuitas meningkat menjadi Rp 8,25 triliun, dari Rp 8,16 triliun pada akhir 2025.
Sementara itu, defisit perseroan menyusut menjadi Rp 663,52 miliar, dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 846,12 miliar. Lebih jauh, hingga akhir paruh pertama tahun ini Superbank telah melayani lebih dari 7 juta nasabah. Perseroan menyebut pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang dijalankan perusahaan. Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, mengatakan semester I-2026 menjadi momentum penting bagi perusahaan karena strategi berbasis ekosistem yang dibangun bersama para pemegang saham mulai menunjukkan hasil yang nyata.
“Strategi berbasis ekosistem yang kami bangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya, tidak hanya dari pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga dari meningkatnya profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset. Hal ini menunjukkan bahwa kami berhasil membangun pertumbuhan yang tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan,” ujar Tigor lewat keterangan pers, Rabu (29/7/2026).
Ia menambahkan, Superbank akan terus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang semakin relevan, mudah diakses, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi nasabah, mitra, serta pemegang saham.
Pertumbuhan berbasis ekosistem
Model bisnis berbasis ekosistem yang dijalankan Superbank terus menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis. Hingga Juni 2026, lebih dari 60 persen nasabah Superbank merupakan pengguna Grab dan OVO, yang mencerminkan semakin kuatnya integrasi layanan keuangan ke dalam aktivitas digital masyarakat sehari-hari.
Strategi tersebut mendorong penyaluran kredit menjadi Rp 13,4 triliun, tumbuh 61,0 persen secara tahunan dan meningkat 17,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan kredit didukung semakin luasnya integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) ke dalam ekosistem Grab dan OVO. Dengan demikian, masyarakat dapat mengakses pembiayaan secara lebih mudah, cepat, dan fleksibel langsung melalui aplikasi yang digunakan setiap hari.
Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 15,9 triliun atau meningkat 89,1 persen YoY dan 10,3 persen secara kuartalan. Pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit dinilai memperkuat profil likuiditas perseroan sekaligus memberikan ruang yang sehat untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6










